Pandangan Sirajudin Lasena, Guru Tua Pelopor Pendidikan Inklusif

oleh -122 Dilihat
Ketua Komisaris Wilayah (Komwil) Alkhairaat Bolaang Mongondow Raya (BMR), Sirajudin Lasena (Ft. Aris)

PerisaiPost.com, Boltara | Peringatan Haul ke-58 Habib Idrus bin Salim Al-Jufri atau yang dikenal sebagai Guru Tua tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa pendiri Alkhairaat, tetapi juga memperkuat kembali nilai-nilai moderasi beragama yang diwariskannya.

Ketua Komisaris Wilayah (Komwil) Alkhairaat Bolaang Mongondow Raya (BMR), Sirajudin Lasena, menegaskan bahwa Guru Tua merupakan sosok ulama moderat yang telah menerapkan nilai toleransi sejak awal berdirinya Alkhairaat.

Menurutnya, prinsip moderasi beragama yang diajarkan Guru Tua tidak hanya sebatas konsep, melainkan telah dipraktikkan secara nyata dalam dunia pendidikan.

“Sejak awal mendirikan madrasah Alkhairaat, Guru Tua telah melibatkan saudara nonmuslim sebagai tenaga pendidik,” ungkap Sirajudin.

Ia menjelaskan, praktik inklusivitas tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini. Sejumlah lembaga pendidikan Alkhairaat, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, tetap membuka ruang bagi tenaga pengajar dari berbagai latar belakang.

Bahkan, di beberapa wilayah seperti Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, terdapat madrasah Alkhairaat yang mayoritas siswanya berasal dari kalangan nonmuslim.

“Ini menunjukkan bahwa nilai toleransi dan kebersamaan yang diajarkan Guru Tua benar-benar hidup dan diterapkan,” tambahnya.

Sirajudin juga menilai, keberadaan Alkhairaat di Sulawesi Utara memiliki kontribusi besar dalam dunia pendidikan. Jaringan madrasah yang tersebar luas dinilai mampu memperkuat hubungan antara ulama dan pemerintah, sekaligus menciptakan harmoni sosial di tengah keberagaman.

Haul Guru Tua ke-58 sendiri digelar oleh Pengurus Besar Alkhairaat sebagai Haul Akbar yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Ketua Utama Alkhairaat, Habib Sayid Alwi bin Saggaf Alwi Aljufri, mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menyukseskan kegiatan tersebut.

“Kegiatan Haul Guru Tua ini milik kita bersama, tidak hanya internal Alkhairaat, tetapi juga masyarakat luas,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan haul berlangsung sejak 28 Maret hingga puncaknya pada 1 April 2026 di Kota Palu, dengan berbagai agenda keagamaan, sosial, dan budaya.

Melalui momentum ini, nilai-nilai yang diwariskan Guru Tua, terutama terkait moderasi beragama, toleransi, dan pendidikan inklusif, diharapkan terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Peliput : Aris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.